Total Pageviews

Wednesday, 22 June 2011

HADITH MAUDHU' (Siri 1)

Nukilan:
Abu Islam Fathul Bari & Ummu Islam Siti Aisyah

MUQADDIMAH

Mutakhir kini, manusia tidak lagi menjaga amanah agama yang diwarisi dari para ulama. Naqalan-naqalan tidak lagi ditelti kebenarannya. Sikap suka menyandarkan perkataan tanpa penelitian sudah menjadi mainan tukang karut yang kononnya dikenali sebagai penceramah-penceramah terkemuka. Dengan sikap bersahaja mereka ini menyampaikan apa sahaja yang didengari tanpa mengkaji kedudukan atau kesahihan cerita tersebut. Bahkan hadith-hadith Nabi SAW  yang terpelihara juga menjadi mangsa khianat mereka.

Walaupun hampir ke semua hadith-hadith telah diulang cetak dan dibukukan hingga wujudnya perpustakaan yang canggih dengan peralatan moden, namun sifat amanah yang menjadi simbol kebanggaan salafussoleh tiga kurun mulia terawal, sudah diabaikan. Kitab-kitab tersebut tidak lagi menjadi bahan rujukan, sebaliknya "1001 Kisah Teladan" yang menjadi rujukan utama. Dimanakah nilainya Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lain ? Fikirkanlah…. Nampaknya manusia kini tidak lagi memiliki ciri-ciri orang yang beriman, sebagaimana firman Allah :


Maksudnya : " Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman … (antaranya) Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya ". [Al-Mukminun : 1 & 8]

Oleh itu, nukilan ini disusun dengan harapan, agar kita lebih berhati-hati dalam meriwayatkan sesuatu perkara khususnya hadith-hadith Nabi SAW. Takutilah amaran keras Rasulullah SAW kepada sesiapa yang berbohong terhadap Baginda:

( مَن كَذَّب عَلَيَّ مُتَعَمِدًا فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِن النَّار )

Maksudnya:" Sesiapa yang sengaja berdusta kepadaku , maka sediakanlah tempat tinggalnya
di dalam neraka ". [HR Muslim : no.3][1].

Nukilan ini akan membahaskan perkara-perkara berikut :

  1. Takrif hadith maudhu'
  2. Faktor munculnya hadith maudhu'
  3. Kaedah mengenali hadith maudhu'
  4. Lafaz yang digunakan terhadap hadith palsu
  5. Hukum  meriwayatkan  hadith  maudhu’
  6. Hukum  beramal  dengan  hadith  maudhu’.
  7. Kitab-kitab rujukan hadith maudhu’
  8. Kitab-kitab rujukan perawi lemah

Segala kekurangan dan kesilapan, penyusun harapkan teguran. Moga Allah memberkati usaha memurnikan sunnah Rasulnya dari kepalsuan dan pembohongan. Amin….

  •  TAKRIF HADITH MAUDHU'
           
-          Dari sudut bahasa : Ia berasal daripada perkataan ( وَضَع ). Perkataan maudhu' adalah nama subjek dan mempunyai beberapa pengertian, antaranya menggaris, mereka, menganggur dan melekat.[2]

-          Dari sudut istilah : Hadith maudhu' adalah hadith yang direka atau diada-adakan.[3]

Sebenarnya ia bukanlah hadith tetapi dinamakan demikian sebagai sandaran terhadap penciptanya yang mengatakan ia adalah hadith.

Hadith maudhu' adalah seburuk-buruk hadith dhoif. Tidak harus meriwayatkannya kecuali dengan disertakan penjelasan mengenai pendustaan dan pembohongannya. Sesiapa yang mengatakan yang ia adalah hadith sedangkan ia mengetahui yang itu adalah semata-mata pembohongan terhadap Rasulullah SAW, ternyata ia telah bersekongkol dengan pembohongan terhadap Rasulullah SAW. Pihak yang terlibat telah diberi amaran keras oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :

( مَن كَذَّب عَلَيَّ مُتَعَمِدًا فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِن النَّار )
           
Maksudnya:" Sesiapa yang sengaja berdusta kepadaku , maka sediakanlah tempat tinggalnya
di dalam neraka ". [HR Muslim : no.3][4].

Ibn Al-Solah (w.643H) berkata : "Sesungguhnya hadith maudhu' adalah seburuk-buruk hadith-hadith dhoif , dan tidak halal diriwayatkan bagi seseorang yang mengetahui keadaannya dalam apa bentuk sekalipun kecuali dengan disertakan penjelasan dan keterangan mengenai kepalsuannya ".[5]


[1] Shahih Muslim, (1/10), oleh Muslim bin Hajaj, Abu al-Husain al-Qushairi (w.261H), Percetakan Dar Ihya' at-Turath al-'Arabi -Beirut-, Pentahqiq : Muhammad Fuad Abdul Baqi.
[2] Al-Qamus Al-Muhith, oleh Fairuz Abadi (w.817H), ms.712, Percetakan Kedua, Dar Ihya' at-Turath al-'Arabi -Beirut-, 2003M, Penyusun : Muhammad Abdurrahman Al-Mar'ashili.
[3] Tadrib Al-Rawi Fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, oleh Jalaluddin As-Suyuthi (w.911H), ms.239, Percetakan Darul Hadith-Kaherah-, 2002M, Pentahqiq : Muhammad Aiman bin Abdillah Al-Syoubrawi.
[4] Shahih Muslim, (1/10), oleh Muslim bin Hajaj, Abu al-Husain al-Qushairi (w.261H).
[5] Ulum Al-Hadith, oleh Abu 'Amru 'Uthman bin 'Abdurrahman Al-Syaharzuri yang lebih dikenali dengan Ibn Solah (w.643H), ms.98-99, Percetakan Darul Fikr-Dimashq-, 1986M, Pentahqiq : Nuruddin 'Itr.

No comments:

Post a Comment